Sabtu, 17 Maret 2012

Bukti Intelijen Lemah

BANDUNG; - Terjadinya penembakan dengan airsoft gun terhadap Gereja Kristen Indonesia (GKI) Indramayu, Jawa Barat, pada Jumat (16/3/2012) kemarin, menunjukkan aparat keamanan dan intelijen masih lemah. Akibatnya, tindakan semacam itu tidak terdeteksi.
"Saya heran, kenapa polisi dan aparat intelijen tidak belajar dari berbagai pengalaman sebelumnya. Peristiwa semacam ini terus saja terjadi," kata Direktur Fahmina Institute, Marzuki Wahid, Sabtu (17/3) di Cirebon, Jabar, saat dihubungi dari Bandung.
Marzuki berharap, aparat intelijen lebih tanggap dan siaga dalam menangkal aksi-aksi terorisme yang mengancam masyarakat. Peristiwa ini menunjukkan adanya bibit-bibit terorisme yang tumbuh di Tanah Air kian mengkhawatirkan.
"Aksi-aksi ini tidak bisa diketahui di mana akan terjadinya dan kapan, sehingga aparat intelijen mestinya lebih siaga," kata Marzuki.
Ia menyebut aksi ini sebagai upaya untuk memperkeruh suasana kerukunan antarumat beragama. Sebab yang diserang adalah simbol-simbol keagamaan. "Kami mengutuk keras perbuatan ini," katanya.
Marzuki pada Sabtu siang mengeluarkan pernyataan resmi bersama perwakilan umat beragama lain di Cirebon soal kasus ini. Mereka tergabung dalam Komunitas Untuk Indonesia yang Adil dan Sejahtera (KIAS).

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons